PT IWIP Mendukung Kegiatan Komunitas Pencinta Mangrove dan Terumbu Karang

previous arrow
next arrow
Slider

PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) mendukung kegiatan peduli lingkungan yang dilakukan oleh komunitas di Desa Lelilef Sawai dan Lelilef Waibulen, Weda Tengah, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Dukungan tersebut berupa mendanai semua kegiatan yang melibatkan anak muda dan orang dewasa itu. Adapun kegiatan yang dilakukan antara lain adalah rehabilitasi terumbu karang dan penanaman kembali mangrove.Dalam kegiatan ini, PT IWIP bekerja sama dengan Fakultas Perikanan Universitas Khairun (Unkhair) Ternate guna melakukan pelatihan terhadap anggota komunitas.

Supyan, salah satu perwakilan dari Fakultas Perikanan Unkhair yang juga mentor dalam penanaman mangrove mengatakan, kegiatan ini dilakukan untuk mengantisipasi degradasi lingkungan.

“Jadi salah satu antisipasi kita adalah melakukan rehabilitasi pengembalian kembali kondisi terumbu karang dan mangrove. Yang sudah rusak itu akan kita berusaha kembalikan ke kondisi semula,” jelasnya saat ditemui usai melakukan kegiatan penanaman mangrove di Desa Lelilef Waibulen, Sabtu (28/11).

Menurutnya, cara terbaik untuk mengembalikan kondisi tersebut adalah dengan melibatkan masyarakat sekitar, sehingga mereka mampu melakukan penanaman maupun perawatan secara mandiri.

Para anggota komunitas dibekali dengan ilmu dalam pelatihan yang berlangsung seminggu lebih. Dalam pelatihan itu, kata Supyan, anggota komunitas mempelajari ihwal jenis-jenis mangrove serta karakteristik habitatnya. Tak hanya itu, materi tentang pembibitan, memilih buah, hingga penanaman juga diajarkan.Untuk kedua desa ini, lanjutnya, didominasi oleh mangrove jenis Bruguiera dan Rhizophora. Masyarakat Indonesia lebih akrab menyebut jenis pertama sebagai Tancang dan yang kedua dengan nama Bakau. “Jadi Bakau itu bukan nama lain mangrove, itu salah satu jenisnya.”

Penanaman mangrove oleh komunitas ini dimulai pada Februari 2020. Rencananya pada April akan dilakukan pemantauan, namun karena adanya pandemi COVID-19 maka rencana tersebut dibatalkan. Pemantauan baru bisa dilakukan pada Juli 2020, alhasil kondisi mangrove kala itu terbawa oleh arus, sebab alga yang menumpuk sehingga membuat mangrove rubuh.

Tak patah arang, pada Agustus dan September, pihaknya kembali menanam mangrove dengan jumlah mencapai 500 pohon. Niat itu membuahkan hasil, dua bulan sejak penanaman, kondisi mangrove tumbuh sangat baik dengan tinggi rata-rata 15 – 20 cm. Selain itu, kelangsungan hidupnya juga sangat tinggi yakni 86 persen.

“Hari ini, selain melakukan pengukuran dan pemantauan, kita juga melakukan penyulaman, jadi yang mati itu akan kita sulam kembali,” katanya.

Senada dengan Supyan, Ketua Tim Transplantasi Terumbu Karang yang juga berasal dari Unkhair, Nurhalis Wahidin mengatakan, lebih efektif jika kegiatan seperti ini melibatkan masyarakat. Sampai saat ini, pemahaman anggota komunitas dalam penanaman, pemeliharaan, hingga pemantauan terumbu karang sudah mencapai 90 persen.

“Terakhir kali kita ukur, kelangsungan hidupnya mencapai 85 persen. Setelah dua tahun, itu akan kita pindahkan ke lokasi yang dibutuhkan untuk rehabilitasi, kemudian dilakukan penanaman baru yang bibitnya berasal dari hasil transplantasi,” jelasnya.

Ia berharap, transplantasi ini tidak hanya membuat karang baru, tapi juga menciptakan ekosistem anyar baru kehidupan ikan. Selain membekali anggota komunitas dengan ilmu tentang terumbu karang, pihaknya juga mengajari kemampuan menyelam sehingga para anggota memilih sertifikat dasar penyelaman.Sementara itu, dua anggota komunitas yakni Mulyadi Moktar dan Jarti Nagara mengaku antusias mengikuti kegiatan ini. Mulyadi, misalnya, kendati masih berstatus pelajar, ia mengaku sudah mampu melakukan penanaman serta pengukuran terumbu karang.

“Alhamdulillah sudah bisa menyelam, cangkok, pengukuran, hingga teknik potong coral. Ini bagus karena biar bagaimana kan ini torang (kami) pe (punya)lingkungan. Bikin karang supaya ikan banyak dan untuk melindungi kelestarian alam,” ucapnya.

Serupa dengan Mulyadi, Jinarti Nagara yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu mengaku niat mengikuti komunitas ini tak lain untuk bisa melindungi desa yang didiaminya. “Lagian kan ini untuk kepentingan kita semua,” kata sosok yang juga dipilih sebagai ketua komunitas itu.Environmental Specialist PT IWIP Imei Oktaria mengatakan, pihaknya sudah memulai kegiatan ini sejak tahun lalu, dimulai dengan survey lokasi oleh pihak Unkhair. Ia juga mengaku sudah melakukan sosialisasi terhadap masyarakat maupun pemerintah Halmahera Tengah.

“Jadi tidak hanya kawasan industri saja yang dikenal memiliki dampak lingkungan ke mana-mana, tapi ternyata kawasan industri IWIP juga ingin melestarikan lingkungan,” tegasnya.

Dalam kegiatan ini, lanjut Imei, pihaknya hanya bertindak sebagai sponsor, sebab niatnya adalah ingin membentuk komunitas pecinta lingkungan yang solid dalam menjaga mangrove maupun terumbu karang.

“Awalnya sih ya mungkin kita bisa tanam 1000 mangrove dan 20 apartement coral. Kalau itu bisa tercapai itu bagus sekali. Tapi lihat kembali tujuan awalnya adalah pembentukan komunitas yang memiliki target sendiri dan peduli,” pungkasnya.